Gattuso diganjar Kartu Kuning oleh wasit saat kualifikasi piala dunia 2026. (Foto: Rai)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Kegagalan menyakitkan Timnas Italia menembus putaran final Piala Dunia 2026 meninggalkan luka mendalam bagi sang pelatih, Gennaro Gattuso. Juru taktik berusia 48 tahun itu tak kuasa menahan emosi dan secara terbuka menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh suporter Gli Azzurri usai timnya disingkirkan Bosnia dan Herzegovina, Selasa (31/3) malam waktu setempat.
Bermain di Stadion Bilino Polje, Zenica, Italia sejatinya tampil meyakinkan dan sempat unggul lewat gol Moise Kean. Namun, kartu merah yang diterima bek Alessandro Bastoni mengubah segalanya. Kalah jumlah pemain, gawang Italia akhirnya kebobolan oleh Haris Tabakovic di penghujung laga, sebelum akhirnya takluk 1-4 dalam drama adu penalti.
Berbicara kepada RAI Sport seusai pertandingan, Gattuso tampak berkaca-kaca. Meski kecewa berat dengan hasil akhir, ia menegaskan kebanggaannya terhadap perjuangan 10 pemainnya yang mati-matian bertahan dari gempuran tuan rumah hingga babak perpanjangan waktu (extra time).
“Secara pribadi, saya meminta maaf karena tidak berhasil membawa tim ini lolos. Namun, anak-anak ini telah memberikan segalanya. Mereka tidak pantas menerima hasil ini setelah semua usaha, cinta, dan determinasi yang mereka tunjukkan,” ungkap Gattuso.
“Saya tetap bangga pada pemain saya. Jika Anda menusuk saya dengan belati hari ini, tidak akan ada yang keluar, darah saya sudah habis terkuras. Kelolosan ini sangat penting bagi pergerakan sepak bola Italia, dan rasanya sangat menyakitkan harus tersingkir dengan cara seperti ini,” tambahnya emosional.

Enggan Salahkan Wasit dan Hindari Pembicaraan Masa Depan
Laga ini juga diwarnai kontroversi saat bek sayap Italia, Marco Palestra, yang berlari bebas menuju gawang dilanggar keras oleh pemain Bosnia. Namun, wasit Clement Turpin hanya mengeluarkan kartu kuning. Meski merasa dirugikan, Gattuso menolak menjadikan keputusan wasit sebagai kambing hitam.
“Saya tidak ingin membicarakan wasit atau apa pun, inilah sepak bola. Saya sudah bertahun-tahun di dunia ini, saya pernah merayakan kemenangan dan saya juga pernah hancur lebur seperti hari ini. Ini memang sulit untuk ditelan,” tegas mantan gelandang AC Milan tersebut.
Gattuso juga mengaku terkejut melihat daya juang luar biasa yang ditunjukkan anak asuhnya meski harus bermain di bawah tekanan hebat layaknya “berada di dalam parit pertahanan”.
Ketika disinggung mengenai masa depannya di kursi kepelatihan Timnas Italia menyusul kegagalan bersejarah ini (Italia kini absen di tiga edisi Piala Dunia beruntun), Gattuso memilih bungkam.
“Saya rasa membicarakan masa depan saya hari ini tidaklah penting. Yang terpenting adalah pergi ke Piala Dunia. Kami bisa mengambil sisi positif dari performa hari ini, tetapi ini sangat menyakitkan. Kami semua sangat kecewa,” tutupnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.











