Dampak konflik Iran vs AS, 1.900 kapal dan 190 juta barel minyak tertahan di Selat Hormuz. (Foto: Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Selat Hormuz kini tak ubahnya area parkir raksasa yang mencekam. Pasca-serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 lalu, jalur pelayaran paling vital di dunia ini mendadak mati suri. Tak tanggung-tanggung, sekitar 1.900 kapal komersial terjebak, tak bisa bergerak, menunggu nasib di tengah bara ketegangan militer.
Langkah Teheran sudah bulat. Sebagai respons atas agresi tersebut, mereka menutup rapat pintu keluar-masuk bagi kapal-kapal yang berafiliasi dengan negara penyerang.
Akibatnya, lalu lintas maritim di ‘leher’ Teluk Persia itu lumpuh total. Kapal-kapal raksasa kini hanya bisa membuang sauh di perairan terbuka, pasrah pada ketidakpastian.
Aturan Main Baru Teheran
Iran bukannya menutup mata sepenuhnya. Mereka masih mengizinkan kapal dari negara lain melintas, dengan syarat ketat: tidak mendukung agresi terhadap Iran dan patuh total pada aturan keselamatan mereka. Namun, bagi entitas yang berbau AS dan Israel, pintu sudah terkunci rapat.
“Situasi tidak akan kembali seperti sebelum perang,” tegas Ebrahim Zolfaqari, juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran (Markas Pusat Khatam al-Anbiya), seperti dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (26/3/2026).
Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa Iran telah mengubah peta permainan di Selat Hormuz secara permanen.
Angka yang Bikin Bergidik
Data real-time dari MarineTraffic periode 20-22 Maret melukiskan kondisi yang mengerikan. Dari 1.900 kapal yang tertahan, rinciannya mencakup:
- 324 kapal curah.
- 315 kapal pengangkut minyak atau kimia.
- 211 tanker minyak mentah.
- 174 kapal kontainer.
- 98 kapal LPG, dan ratusan kapal kargo lainnya.
Yang paling membuat dunia ketar-ketir adalah muatannya. Lembaga analisis Vortexa mencatat ada sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk turunannya yang mengapung tak bertuan di atas kapal-kapal tanker tersebut.
Raksasa pelayaran Jerman, Hapag-Lloyd, bahkan mengakui enam kapalnya kini jadi ‘pesakitan’ di Teluk Persia.
Tarif Meroket, Ekonomi Global Tercekik
Dampaknya? Jelas instan dan menyakitkan. Direktur Analisis Maritim BIMCO, Filipe Gouveia, menyebut pasar pelayaran kini sedang terguncang hebat. Karena jalur darat tak mampu menampung volume kargo raksasa ini, biaya angkut pun terbang tinggi.
Tengok saja angkanya: sejak 27 Februari hingga 20 Maret, Baltic Dirty Tanker Index melonjak 49 persen, sementara Baltic Clean Tanker Index terbang hingga 78 persen. Kenaikan harga bahan bakar dan biaya tambahan darurat (surcharge) yang dipatok perusahaan pelayaran kian memperkeruh suasana.
Perlu diingat, dalam kondisi normal, 30 persen ekspor minyak global jalur laut bergantung pada Selat Hormuz. Jika sumbat ini tak segera dibuka, dunia harus bersiap menghadapi krisis energi dan kenaikan harga barang yang tak terhindarkan.
Selat Hormuz bukan lagi sekadar jalur pelayaran; ia kini menjadi simbol betapa rapuhnya stabilitas ekonomi global saat moncong meriam mulai berbicara.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.










