Dokter Gia (Tengah) bersama tim tenaga kesehatan yang bertugas di IGD. (Dokumentasi: Tangkapan layar dari Instagram Dokter Gia)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Influencer sekaligus edukator kesehatan, Gia Pratama, mengungkap fenomena yang kerap terjadi usai bulan suci Ramadan.
Ia menyebut Instalasi Gawat Darurat (IGD) di sejumlah rumah sakit kembali ramai dipadati pasien.
Hal tersebut disampaikan Gia melalui unggahan di media sosialnya. Ia menggambarkan suasana IGD yang kembali sibuk, mulai dari suara roda brankar, bunyi monitor medis, hingga tangis keluarga yang menunggu dengan cemas.
Padahal, menurutnya, kondisi tersebut berbeda saat Ramadan berlangsung. Suasana IGD cenderung lebih lengang dan tenang.
“Sekarang yang datangpun membawa cerita yang mirip. Tekanan darah melonjak. Gula darah naik tajam. Perut tidak nyaman, diare,” kata Gia dikutip dari unggahannya, di Jakarta, Kamis (26/3/2026).
Melihat kondisi tersebut, Gia mengingatkan pentingnya kembali menjaga pola hidup sehat, terutama dalam hal konsumsi makanan setelah momen Lebaran.
“Teman-teman, percayalah tubuh kita itu jujur. la mencatat apa yang kita makan, apa yang kita ubah, apa yang kita abaikan,” katanya.
Ia menjelaskan, selama Ramadan tubuh terbiasa dengan ritme yang lebih teratur, mulai dari jam makan hingga kontrol diri yang lebih baik. Namun, saat Hari Raya tiba, pola tersebut kerap berubah drastis.
“Saat hari raya datang. Meja jadi penuh. Kita semua ingin merayakan, itu sangat wajar. Tetapi tubuh kita tetap menjalankan konsekuensi,” tambahnya.
Sebagai solusi, dr. Gia mengajak masyarakat untuk melanjutkan kebiasaan baik selama Ramadan melalui puasa sunah di bulan Syawal.
Ia mengusulkan agar masyarakat kembali menjalankan puasa sebagai upaya menjaga keseimbangan tubuh sekaligus melanjutkan disiplin yang telah dibangun selama Ramadan.
Menurutnya, puasa Syawal memiliki nilai spiritual sekaligus manfaat kesehatan yang signifikan.
“Rasulullah SAW menjaga kebiasaan itu. Hanya Enam hari di bulan Syawal. Sebagai penjaga arah setelah satu bulan dilatih dan berhasil kembali fitri, kembali ke fitrah settingan awal tubuh kita,” katanya.
Ia juga menyebut puasa Syawal dapat menjadi jembatan untuk mempertahankan pola hidup sehat usai Ramadan.
“Puasa Syawal akan seperti jembatan. Menghubungkan disiplin Ramadan dengan kehidupan kita setelahnya. Puasa Syawal itu sederhana, fleksibel, dan penuh makna,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gia menjelaskan pelaksanaan puasa Syawal tidak harus dilakukan secara berurutan, sehingga tetap mudah dijalankan oleh masyarakat.
“Intinya enam hari di bulan Syawal. Tidak ada kewajiban harus berturut-turut. Boleh dijalankan selang-seling. Boleh juga langsung enam hari berurutan kalau ingin menjaga momentum. Keduanya sah,” katanya.
“Rasulullah SAW menyampaikan keutamaannya, puasa Ramadan yang diikuti enam hari di Syawal nilainya seperti berpuasa sepanjang tahun. Kalau dilihat dari sisi tubuh, Enam hari itu kecil kalau dilihat dari angka. Tapi dampaknya besar untuk kesehatan,” ujarnya.
Selain manfaat fisik, puasa Syawal juga dinilai mampu menjaga kesadaran diri dalam mengendalikan hawa nafsu.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.












