Meugang di Sijudo: Merawat Persaudaraan di Atas Jejak Banjir Aceh Timur

Ivan Medium.jpeg

Sabtu, 21 Maret 2026 – 04:55 WIB

Tradisi Meugang di Aceh Timur (foto:Antara/Aloysius Lewokeda)

Tradisi Meugang di Aceh Timur (foto:Antara/Aloysius Lewokeda)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Deru mesin air dan sisa lumpur yang mengering mungkin masih menjadi pemandangan sehari-hari di Desa Sijudo, Kabupaten Aceh Timur. Namun, menjelang Idul Fitri 1447 Hijriah, aroma rempah khas Aceh mulai mengalahkan bau tanah. 

Di tengah upaya bangkit dari hantaman banjir, warga penyintas bencana ini memilih satu cara ampuh untuk memulihkan jiwa: Tradisi Meugang.

Meugang kali ini bukan sekadar ritual menyantap daging jelang Lebaran. Bagi warga Dusun Rantau Panjang Rubek, ini adalah pernyataan bahwa bencana boleh merusak bangunan, tapi tidak mampu meretakkan persaudaraan.

“Di tradisi Meugang ini, semua warga gotong-royong. Dari menyembelih, memasak, sampai makan bersama. Rasa kekeluargaan kami jadi semakin erat,” ujar Kepala Dusun, Jahidin, dengan mata berbinar saat ditemui pada Jumat (20/3).

Pemandangan di dusun tersebut tampak kontras dengan duka pascabencana. Para laki-laki bahu-membahu menyembelih sapi, memotong daging dengan cekatan—sebuah potret solidaritas yang diwariskan turun-temurun. Daging-daging itu kemudian dibagikan secara adil kepada 46 kepala keluarga di dusun tersebut. Tak ada yang tertinggal, semua mendapat bagian yang sama.

Sementara itu, dapur-dapur komunal mendadak riuh. Para perempuan sibuk meracik bumbu, menghaluskan cabai, dan menyiapkan aneka rempah. Sebagian daging sengaja tidak dibagikan untuk dimasak besar dan dinikmati bersama-sama dalam satu meja panjang.

Bagi warga Sijudo, bantuan dari pemerintah maupun pihak swasta memang sangat berarti untuk memulihkan infrastruktur. Namun, untuk menormalkan kehidupan sosial, mereka percaya pada kekuatan tradisi sendiri.

“Kami masih berjuang memulihkan aspek kehidupan yang terdampak bencana. Tapi tradisi Meugang tetap jalan. Ini modal kami untuk bersama-sama mengatasi kesulitan,” tambah Jahidin.

Di bawah naungan langit Aceh Timur, tawa pecah saat hidangan daging masak rempah disajikan dengan nasi hangat. Di momen itulah, status sebagai “penyintas bencana” seolah luruh, berganti menjadi keluarga besar yang siap menyongsong hari kemenangan.

Meugang di Sijudo tahun ini adalah bukti nyata bahwa di balik piring-piring berisi daging, ada doa dan tekad kolektif untuk terus melangkah maju, menjaga silaturahmi demi masa depan yang lebih baik.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang