Era di mana kita harus mengunduh dan membuka puluhan aplikasi di layar smartphone mungkin akan segera menjadi sejarah. Carl Pei, Co-founder sekaligus CEO dari brand elektronik Nothing, memproyeksikan masa depan pasca-iPhone di mana perangkat kita akan sepenuhnya digerakkan oleh agen Kecerdasan Buatan (AI), bukan lagi aplikasi konvensional.
“Dalam konteks AI pada perangkat lunak, saya pikir orang-orang harus memahami bahwa aplikasi akan menghilang,” tegas Pei dalam sesi wawancaranya di konferensi South by Southwest (SXSW) di Austin, Texas, Rabu (18/3/2026).
Ia bahkan memberikan peringatan keras kepada para startup yang model bisnisnya murni bergantung pada ekosistem aplikasi. “Jika Anda seorang pendiri atau startup dan aplikasi Anda adalah letak nilai inti perusahaan, itu akan terdisrupsi, suka atau tidak.”
Pengalaman Pengguna (UX) yang Jalan di Tempat
Kritik utama Pei terhadap ekosistem smartphone saat ini adalah mandeknya inovasi antarmuka (user interface). Meski teknologi di dalam saku kita telah berevolusi pesat, cara kita menggunakannya ternyata tidak banyak berubah selama dua dekade terakhir.
“Cara kita menggunakan ponsel saat ini sangat kuno. Ini pra-iPhone… Dulu ada Palm Pilot dan PDA. Jika Anda memikirkan pengalaman penggunanya, masih sangat mirip,” jelas Pei. “Anda memiliki layar kunci, layar beranda, aplikasi. Ada semacam toko aplikasi. Jadi, ini belum benar-benar berubah selama 20 tahun.”
Pei mencontohkan kerumitan yang tidak disadari pengguna saat melakukan tugas sederhana seperti merencanakan ngopi bersama teman. Untuk satu niat tersebut, pengguna seringkali harus melompat ke empat aplikasi berbeda: aplikasi pesan (untuk mengobrol), peta (untuk mencari lokasi), Uber (untuk transportasi), dan kalender (untuk mengatur jadwal).
Visi AI-First: Dari Asisten Menjadi Pengambil Inisiatif
Tahun lalu, visi mengenai perangkat AI-first inilah yang berhasil membantu Nothing menutup putaran pendanaan Seri C senilai $200 juta. Pei membagi evolusi AI di perangkat seluler ke dalam beberapa tahap.
Tahap awal, yang saat ini sedang diuji coba oleh beberapa perusahaan, adalah AI yang mengeksekusi perintah dasar seperti memesan tiket pesawat. Namun, Pei menganggap tahap ini “sangat membosankan”.
Lompatan sesungguhnya terjadi ketika AI mulai mempelajari niat pengguna dalam jangka panjang. Sistem tidak lagi menunggu perintah, melainkan memberikan saran proaktif.
“Masa depan smartphone atau sistem operasi seharusnya hanya: ‘Saya sangat mengenal Anda, dan jika saya tahu niat Anda, saya akan melakukannya untuk Anda,’ alih-alih harus melalui semua aplikasi secara manual,” papar Pei.
Antarmuka untuk AI, Bukan Manusia
Meskipun memprediksi kepunahan aplikasi, Pei mengingatkan bahwa transisi ini tidak akan terjadi dalam semalam. Saat ini, sistem operasi Nothing OS bahkan masih memungkinkan pengguna untuk membuat (vibe code) aplikasi mini mereka sendiri.
Namun, tujuan akhirnya adalah menciptakan ekosistem antarmuka yang dirancang khusus agar mudah dinavigasi oleh AI, bukan lagi antarmuka yang dirancang untuk sentuhan jari manusia. AI masa depan tidak akan meniru cara manusia mengetuk layar atau menggeser menu, melainkan akan mengeksekusi “aplikasi” secara mulus di latar belakang (frictionless).
“Itulah cara yang lebih tahan uji di masa depan (future-proof),” tutup Pei.













