Asia Tenggara Hadapi Suhu Ekstrem di Maret-Mei, RI dan Malaysia Bersiap Mandi Keringat

Reza Medium.jpeg

Selasa, 17 Maret 2026 – 12:40 WIB

Warga menggunakan payung saat cuaca terik di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (15/10/2025). (Foto: Antara)

Warga menggunakan payung saat cuaca terik di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (15/10/2025). (Foto: Antara)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Kawasan Asia Tenggara diprediksi akan menghadapi awal musim panas dengan suhu yang lebih tinggi dari biasanya. Berdasarkan laporan terbaru dari ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), Indonesia dan Malaysia diperkirakan menjadi wilayah yang paling terdampak pada fase awal fenomena ini.

Suhu di sebagian besar wilayah Asia Tenggara, baik daratan maupun kepulauan, diprediksi akan berada di atas rata-rata selama periode Maret hingga Mei 2026. Kondisi cuaca ekstrem ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran yang memicu lonjakan harga energi global.

Jika gangguan pasokan energi berlangsung lama, negara-negara Asia Tenggara yang bergantung pada bahan bakar fosil berpotensi menghadapi kendala dalam pembangkitan listrik. Beban listrik diperkirakan melonjak pada April hingga Mei saat suhu udara mencapai puncaknya.

ASMC memproyeksikan peluang suhu di atas normal di Indonesia dan Malaysia mencapai 80-100 persen dalam tiga bulan ke depan. Suhu panas ini diperkirakan mulai terjadi di kedua negara tersebut sebelum meluas ke wilayah Thailand dan Vietnam bagian utara.

Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan terkait suhu menyengat yang dirasakan warga Jakarta belakangan ini. BMKG menegaskan kondisi ini bukan semata-mata karena kemarau datang lebih awal, melainkan pengaruh faktor atmosfer pasca-hujan lebat.

Langit yang cenderung cerah membuat radiasi matahari langsung menghantam permukaan bumi tanpa penghalang awan. Kelembapan udara yang tinggi sisa hujan sebelumnya juga membuat udara terasa lebih gerah dari suhu sebenarnya.

BMKG menyampaikan, meski siang hari terasa terik, kondisi ini bukan pertanda kemarau datang lebih cepat. Saat ini, cuaca masih berada dalam masa peralihan atau pancaroba.

Lebih lanjut, otoritas cuaca nasional ini memastikan fenomena yang terjadi di tanah air saat ini belum masuk kategori gelombang panas secara ilmiah.

BMKG juga menegaskan, kondisi panas yang dirasakan saat ini bukan termasuk fenomena gelombang panas. Secara ilmiah, gelombang panas adalah kondisi suhu udara yang sangat tinggi dan berlangsung selama beberapa hari berturut-turut, dengan nilai suhu maksimum jauh di atas normal suatu wilayah.

Google

Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang