PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) catatkan pertumbuhan pendapatan 15 persen pada 2025 dengan bsnis pinjaman fintech melonjak 95 persen. (Ilustrasi: Inilah.com/AI)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Raksasa teknologi tanah air, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk, baru saja merilis raport merah putihnya untuk tahun buku 2025. Hasilnya? Cukup membuat pasar modal berdegub kencang. Emiten super-app ini sukses membukukan pendapatan bersih sebesar Rp18,32 triliun, tumbuh meyakinkan 15 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya yang berada di angka Rp15,89 triliun.
Kinerja mentereng ini seolah menjadi jawaban atas keraguan pasar mengenai jalan panjang menuju profitabilitas. Tak hanya sekadar tumbuh, GoTo kini menunjukkan otot-otot bisnisnya yang kian kekar, terutama di lini teknologi finansial (fintech) dan layanan on-demand.
GTV Inti Melonjak, Bukti Loyalitas Pengguna
Direktur Utama GoTo Hans Patuwo, dalam keterangan resminya Rabu (11/3/2026), menegaskan bahwa momentum pertumbuhan sepanjang 2025 berada dalam posisi yang sangat kuat. Salah satu indikator utamanya adalah Nilai Transaksi Bruto atau Gross Transaction Value (GTV) inti yang melonjak drastis 49 persen secara tahunan menjadi Rp400 triliun.
“Kami mencatatkan kinerja kuat di kuartal keempat dan sepanjang 2025. EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp2 triliun, melampaui pedoman yang kami tetapkan sebelumnya,” ujar Hans lugas.
Kepercayaan diri ini pun berlanjut ke tahun depan, di mana GoTo mematok target EBITDA di kisaran Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun untuk 2026.
Lonjakan transaksi ini bukan tanpa sebab. Jumlah pengguna aktif tahunan (Annual Transacting Users/ATU) GoTo kini mencapai 66 juta orang, naik 24 persen. Artinya, ekosistem GoTo kian lengket di keseharian masyarakat Indonesia.
Fintech: Sang ‘Game Changer’
Jika menilik lebih dalam, unit bisnis fintech adalah bintang utama dalam laporan keuangan kali ini. Pendapatan bersih dari sektor pinjaman (lending) meroket hampir dua kali lipat alias 95 persen, dari Rp1,94 triliun menjadi Rp3,78 triliun. Angka ini membuktikan bahwa strategi GoTo menggarap pasar keuangan digital mulai memanen hasil yang signifikan.
Tak mau kalah, segmen On-Demand Service (ODS)—yang menaungi layanan transportasi dan pengantaran—juga mencatatkan kenaikan EBITDA yang disesuaikan sebesar 105 persen menjadi Rp1,4 triliun sepanjang 2025.
Kedisiplinan biaya dan efisiensi operasional nampaknya menjadi resep manjur bagi manajemen GoTo di bawah komando Simon Ho sebagai Direktur Keuangan.
Arus Kas Positif, Sinyal Sehat
Salah satu poin krusial yang sering diperhatikan investor adalah arus kas. Di 2025, GoTo berhasil membukukan arus kas bebas yang disesuaikan (adjusted free cash flow) positif sebesar Rp966 miliar untuk setahun penuh. Ini adalah sinyal positif bahwa perusahaan tidak lagi sekadar “bakar uang”, melainkan sudah mampu menghasilkan kas dari operasionalnya sendiri.
“Kinerja kami mencerminkan keberhasilan dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan top-line dan profitabilitas bottom-line,” tambah Simon Ho.
Dengan kombinasi pendapatan yang tumbuh positif, penguasaan pasar fintech yang makin dalam, serta disiplin biaya yang ketat, GoTo kini menatap 2026 dengan posisi tawar yang jauh lebih tinggi di industri teknologi regional.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













