Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun saat ditemui di Hotel Manhattan, Jakarta, Selasa (20/1/2026).(Foto: inilah.com/Clara Anna Scholastica)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Tak sedang bercanda, Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun mengungkap cara pengusaha mengeruk duit mudah lewat penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan tingkat free float yang rendah.
Cara culas ini akan membentuk harga saham jauh dari kondisi perusahaan yang sebenarnya. Di mana, pengusaha akan memaksakan IPO ketika bisnisnya masih dalam tahap pengembangan, atau belum sepenuhnya stabil.
Selanjutnya, saham yang akan dilepas ke publik, dibatasi tak lebih dari 5 persen dari total IPO. Sisanya yang 95 persen akan diserap lewat konco-konconya, atau bahkan perusahaan lain yang terafiliasi.
“Seakan-akan bursa saham kita digunakan sekelompok masyarakat dan kemudian yang disebut oligarki. Mereka pengusaha, kemudian merencanakan IPO perusahaannya yang sebenarnya belum kuat, tapi masih growth. Atau masih tahap pengembangan. Masih didevelop. Nah, share floatnya kecil, misalnya 10 persen, 12 persen, bahkan hanya 5 persen,” ungkap Misbakhun di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026).
Dengan porsi saham publik yang minim, kata dia, pemilik lama perusahaan masih memegang mayoritas saham. Bahkan bisa mencapai lebih dari 90 persen. Harga saham di pasar, sengaja dipoles atau digoreng hingga ke level tertentu dan mempengaruhi valuasi keseluruhan perusahaan.
Selain itu, perusahaan tercatat itu kemudian melakukan Repurchase Agreement (REPO) atau menjadikan saham sebagai jaminan untuk memperoleh pendanaan dari lembaga keuangan seperti perbankan, investment banking, atau private banking.
“Di sini dia akan me-REPO untuk mendapatkan dana perbankan atau dana dari investment banking atau private banking dan sebagainya. Nah ini yang terjadi. Dipakai untuk membiayai korporasinya yang di-listing? Enggak. Tapi (uangnya) masuk ke group,” ujarnya.
Politikus Partai Golkar ini, menilai, pola seperti ini, menjadi salah satu hal yang memunculkan kekhawatiran di kalangan investor. Sebab, sebagian pihak menilai proses pembentukan harga saham bisa dianggap kurang adil.
Pria asal Pasuruan, Jaw Timur mengingatkan pentingnya otoritas pasar modal menjaga kepercayaan investor. Dalam hal ini, khususnya kepercayaan ritel yang saat ini banyak berasal dari kalangan anak muda.
“Hal-hal yang seperti ini kemudian orang menganggap bahwa pembentukan harga ini tidak fair. Dan orang sudah mulai mengamati dengan detail. Ini nyampe juga ke kita,” pungkasnya.
Tambahkan Inilah.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.













