Persaingan layanan internet berbasis Fixed Wireless Access (FWA) semakin ramai, termasuk dengan hadirnya paket Internet Rakyat (IRA) seharga Rp100.000 per bulan. Biznet menilai tren tersebut belum memberi dampak signifikan terhadap bisnis perseroan karena pelanggan dinilai tetap mengutamakan kualitas layanan dibandingkan harga semata.
Senior Manager Marketing Biznet, Adrianto Sulistyo, mengatakan faktor utama yang dipertimbangkan pelanggan dalam memilih layanan internet adalah bandwidth dan stabilitas koneksi.
“Kalau buat impact secara langsung di market atau di sisi pelanggan kami masih belum cukup signifikan,” ujar Adrianto dalam konferensi pers di kantor Biznet, Selasa (3/2/2026).
Menurut dia, pelanggan internet rumah saat ini cenderung membandingkan kapasitas bandwidth dan kualitas jaringan sebelum memutuskan beralih ke penyedia lain. Selain itu, rekomendasi dari teman atau keluarga masih menjadi faktor penting dalam proses pengambilan keputusan.
“Konsumen sekarang melihat dulu kualitasnya. Bandwidth berapa, stabil atau tidak, baru kemudian bicara harga,” katanya.
Infrastruktur Mandiri Jadi Andalan
Di tengah maraknya layanan FWA murah, Biznet menegaskan kekuatan utama perusahaan berada pada infrastruktur fiber optic yang dibangun dan dioperasikan secara mandiri, termasuk backbone kabel bawah laut.
Adrianto menyebut kepemilikan dan pengelolaan infrastruktur sendiri memberi kepastian layanan karena perusahaan tidak bergantung pada pihak ketiga untuk pemeliharaan jaringan.
“Kami membangun dan mengelola sendiri infrastruktur, termasuk backbone bawah laut. Itu memberikan rasa tenang bagi pelanggan karena kualitas bisa kami kontrol langsung,” ujarnya.
Ekspansi jaringan juga terus dilakukan. Pada 2026, Biznet menargetkan koneksi mandiri kabel bawah laut ke arah Kalimantan untuk memperkuat kapasitas dan jangkauan layanan. Saat ini, kapasitas bandwidth Biznet di sejumlah wilayah telah mencapai kecepatan di atas 100 Mbps, bahkan hingga 500 Mbps pada area yang terhubung backbone baru.
Strategi Naikkan Kecepatan Tanpa Tambah Harga
Sebagai respons terhadap kompetisi harga, Biznet memilih meningkatkan kapasitas layanan tanpa menaikkan tarif. Pada 2026, perusahaan akan menaikkan kecepatan hingga 30 persen tanpa perubahan harga paket.
Salah satu contohnya, paket 65 Mbps akan meningkat menjadi 100 Mbps dengan tarif tetap Rp250.000 per bulan. Di wilayah dengan sensitivitas harga tinggi, Biznet juga menawarkan promo khusus kuartal I/2026 sebesar Rp150.000 per bulan untuk kecepatan 100 Mbps, antara lain di Rangkasbitung, Pandeglang, dan Anyer.
“Strategi kami adalah meningkatkan value. Bukan sekadar murah, tapi memberikan bandwidth lebih besar dengan kualitas yang tetap terjaga,” kata Adrianto.
Persaingan Fixed Broadband Makin Ketat
Laporan Fixed Broadband Experience edisi November 2025 dari Opensignal menunjukkan persaingan ketat antarpenyedia layanan internet di Indonesia. Secara nasional, XL Home mencatat skor tertinggi pada kategori Reliability Experience, sementara Biznet Home unggul pada kecepatan unduh.
Di wilayah Jakarta dan sebagian besar Jawa, Biznet mendominasi sejumlah kategori performa. Sementara itu, di Kalimantan, XL Home mencatat kinerja kuat di seluruh kategori.
Opensignal menekankan hasil pengukuran dipengaruhi oleh campuran teknologi yang digunakan penyedia layanan, mulai dari fiber, kabel, hingga xDSL, serta kualitas perangkat router pelanggan.
Biznet menyambut kompetisi yang semakin ketat sebagai bagian dari percepatan transformasi digital nasional. Namun, perusahaan tetap menegaskan bahwa kualitas jaringan dan stabilitas layanan menjadi kunci utama mempertahankan pelanggan di tengah maraknya layanan FWA murah.
“Kami percaya pelanggan memilih berdasarkan pengalaman. Kalau kualitas terjaga dan stabil, itu yang membuat mereka bertahan,” ujar Adrianto.













