Selat Hormuz Membara, Harga Minyak Dunia Langsung Meroket 7 Persen

Ikhsan Medium.jpeg

Senin, 2 Maret 2026 – 17:43 WIB

Ketegangan Iran-Israel di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia hingga 7 persen. (Foto: Getty Images)

Ketegangan Iran-Israel di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia hingga 7 persen. (Foto: Getty Images)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Ketegangan di Timur Tengah benar-benar menjadi momok bagi stabilitas ekonomi global. Harga minyak dunia dilaporkan melonjak tajam setelah sedikitnya tiga kapal tanker menjadi sasaran serangan di kawasan vital, Selat Hormuz. Aksi ini merupakan respons keras Iran terhadap rentetan serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Laporan dari Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) menyebutkan dua kapal terkena hantaman langsung, sementara satu kapal lainnya melaporkan ledakan proyektil dalam jarak yang sangat dekat. Iran sendiri telah mengeluarkan peringatan keras bagi seluruh kapal untuk tidak melintasi selat tersebut.

Dampaknya instan. Mengingat Selat Hormuz adalah jalur bagi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, aktivitas pengiriman internasional di pintu masuk selat praktis terhenti. Para analis memperingatkan bahwa jika konflik ini berlarut-larut, ‘tsunami’ harga minyak tidak akan terhindarkan.

Lonjakan Harga di Pasar Asia

Pada perdagangan Senin pagi di pasar Asia, harga minyak mentah Brent terpantau melesat lebih dari 7 persen ke level US$78,25 per barel. Setali tiga uang, minyak mentah AS (WTI) juga merangkak naik 7,3 persen ke angka US$71,93.

“Pasar saat ini memang belum panik, namun mereka terus mengamati apakah lalu lintas di Selat Hormuz bisa kembali normal dalam waktu dekat,” ujar Saul Kavonic, Kepala Riset Energi di MST Research. 

Namun, nada optimis itu dibayangi kekhawatiran analis lain yang memprediksi harga minyak bisa menembus angka US$100 per barel jika ketegangan tak kunjung mereda.

Respons OPEC+ dan Ancaman Inflasi Global

Menyikapi gejolak ini, kelompok negara penghasil minyak (OPEC+), termasuk Arab Saudi dan Rusia, sepakat menambah produksi sebesar 206.000 barel per hari. Meski diniatkan untuk meredam harga, banyak pihak meragukan langkah ini efektif selama jalur distribusi masih terganggu.

Presiden Automobile Association (AA), Edmund King, menegaskan bahwa kekacauan di Timur Tengah adalah katalisator utama gangguan distribusi energi global. “Besarnya kenaikan harga sangat bergantung pada seberapa lama konflik ini berlangsung,” cetusnya.

Klaim IRGC dan Pengalihan Rute Laut

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah menghantam tiga kapal tanker milik Inggris dan AS hingga terbakar. Di sisi lain, platform pelacakan kapal Kpler melaporkan sedikitnya 150 kapal tanker kini tertahan dan memilih berlabuh di luar selat karena risiko keamanan yang terlalu tinggi serta meroketnya biaya asuransi.

Kondisi ini memaksa raksasa pelayaran dunia, Maersk, mengambil langkah drastis. Perusahaan asal Denmark tersebut menghentikan seluruh pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dan Terusan Suez, serta mengalihkan rute kapal memutar jauh melalui Tanjung Harapan, Afrika.

Eskalasi ini dipicu oleh serangan udara AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (28/2/2026) lalu. Sejak saat itu, aksi saling balas serangan udara terus terjadi, bahkan mulai merembet ke wilayah Dubai (UEA), Doha (Qatar), Bahrain, hingga Kuwait.