Setahun Luthfi–Yasin Memimpin Jateng: Diuji Bencana hingga Kerek Ekonomi 5,37 Persen

Nebby Medium.jpeg

Sabtu, 21 Februari 2026 – 17:50 WIB

Potret kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maemoen setelah genap satu tahun memimpin Jawa Tengah. (Foto: Dok Jateng).

Potret kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maemoen setelah genap satu tahun memimpin Jawa Tengah. (Foto: Dok Jateng).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Tepat 20 Februari 2026 menandai satu tahun kepemimpinan Ahmad Luthfi dan Taj Yasin Maemoen sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah periode 2025–2030. Dalam rentang waktu tersebut, berbagai tantangan hingga capaian mewarnai perjalanan pemerintahan mereka.

Sejumlah bencana hidrometeorologi menjadi ujian besar. Banjir bandang dan tanggul jebol di Demak, rob di Sayung, longsor di lereng Gunung Slamet yang berdampak pada wilayah Banjarnegara dan Cilacap, hingga peristiwa tanah gerak di Kabupaten Tegal menjadi rangkaian kejadian yang menyita perhatian publik.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah merespons dengan langkah terpadu. Penanganan darurat dilakukan bersamaan dengan upaya pemulihan pascabencana. Koordinasi lintas sektor digenjot untuk memastikan bantuan, perbaikan infrastruktur, hingga rehabilitasi sosial berjalan beriringan.

Di tengah situasi tersebut, agenda pembangunan tetap berjalan. Sejumlah program prioritas tetap digulirkan, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan investasi, penguatan sektor pendidikan dan kesehatan, hingga strategi pengurangan kemiskinan.

Salah satu terobosan yang diperkenalkan adalah program dokter spesialis keliling (Speling) yang menghadirkan layanan kesehatan gratis. Selain itu, terdapat skema sekolah kemitraan untuk pendidikan gratis, beasiswa santri, serta perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Luthfi menekankan pentingnya membuka ruang aspirasi seluas-luasnya. Ia kerap turun langsung berdialog dengan warga dan menyediakan berbagai kanal pengaduan untuk menyerap masukan. Pendekatan ini juga diperluas melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kepala daerah kabupaten/kota, perguruan tinggi, media, pelaku usaha, investor, provinsi tetangga, hingga organisasi masyarakat.

Pendekatan tersebut ia sebut sebagai collaborative government.

“Kita gandeng beberapa kampus dan seluruh potensi masyarakat. Collaborative government ini cara bersama-sama untuk membangun Jawa Tengah,” ucap Luthfi beberapa waktu lalu.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat melakukan panen raya secara simbolis di lahan sawah Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jumat (20/2/2026).(Foto: Dok-Pemprov Jateng)
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat melakukan panen raya secara simbolis di lahan sawah Desa Jambu, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, Jumat (20/2/2026).(Foto: Dok-Pemprov Jateng)

Menurutnya, pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota tidak dapat bekerja sendiri. Nilai gotong royong, kolaborasi, dan kerja tim menjadi fondasi dalam menjalankan program pembangunan di berbagai sektor.

Pertumbuhan Ekonomi di Atas Nasional

Upaya tersebut tercermin dalam sejumlah indikator makro. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan IV 2025 tercatat 5,37 persen (year on year). Angka ini berada di atas rata-rata nasional yang sebesar 5,11 persen, sekaligus menempatkan Jawa Tengah sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Pulau Jawa.

Realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp88,50 triliun. Nilai itu terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp50,86 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp37,64 triliun. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi dalam satu dekade terakhir, dengan 105.078 proyek terealisasi dan penyerapan tenaga kerja mencapai 418.138 orang.

Perkembangan ekonomi itu turut berdampak pada penurunan angka kemiskinan. Data BPS menunjukkan persentase kemiskinan turun dari 9,48 persen pada Maret 2025 menjadi 9,39 persen pada September 2025. Jumlah penduduk miskin tercatat 3,34 juta orang, berkurang 21,87 ribu orang dibanding Maret 2025 dan turun 51,52 ribu orang dibanding September 2024.

Sementara itu, gini ratio berada di angka 0,350, mengindikasikan ketimpangan pendapatan yang semakin menyempit. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita juga meningkat menjadi Rp50,82 juta atau naik 5,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tingkat pengangguran terbuka per November 2025 tercatat 4,32 persen.

Meski demikian, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengakui masih ada pekerjaan rumah pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang berada di angka 74,77.

“Angka kemiskinan kita bisa turunkan, kita semakin baik, maka ini harus perlu kita tingkatkan,” kata Taj Yasin beberapa waktu lalu.

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional harus dijaga keberlanjutannya dan diarahkan pada kelompok rentan.

“Penurunan angka kemiskinan harus kita masifkan lagi. Anggaran harus mengarah kepada penurunan kemiskinan secara bersama-sama, termasuk memberikan akses pendidikan yang lebih baik bagi kelompok disabilitas, agar kualitas hidup mereka meningkat,” tegasnya.

Dampak Nyata di Masyarakat

Sejumlah kisah di tingkat akar rumput menjadi gambaran dampak kebijakan tersebut. Pada Agustus 2025, sebanyak 2.000 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kabupaten Brebes dinyatakan lulus dari data kemiskinan dan tidak lagi menerima bantuan sosial.

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin saat meninjau langsung lokasi longsor di Desa Tempur, Jepara, Selasa (13/1/2026). (Foto: Dok. Pemprov Jateng)
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin saat meninjau langsung lokasi longsor di Desa Tempur, Jepara, Selasa (13/1/2026). (Foto: Dok. Pemprov Jateng)

Salah satunya adalah Setia Puji, yang sebelumnya menerima bansos pada 2020–2025. Sepulang dari ibu kota tanpa pekerjaan tetap, ia merintis usaha bakso keliling. Kini, usahanya berkembang dan mampu mencukupi kebutuhan keluarga.

“Bantuan yang diberikan kemarin sangat meringankan beban kami. Akan tetapi, motivasi saya (harus) bisa mandiri. Kini ekonomi kami lebih mampu,” katanya.

Upaya mendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi tersebut juga mendapat apresiasi dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan. Ia menilai kolaborasi yang dibangun Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berhasil menjadikan daerah itu sebagai salah satu tujuan investasi yang diminati.

Sepanjang 2025, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga meraih sedikitnya 40 penghargaan dari berbagai lembaga. Namun, bagi Luthfi, deretan apresiasi itu bukanlah tujuan akhir.

“Tapi pengingat agar kebijakan yang kami jalankan benar-benar berdampak, melayani masyarakat, menjaga integritas, menstabilkan ekonomi, dan membuka ruang investasi seluas-luasnya,” ucapnya.

Ia menyebut pembangunan Jawa Tengah sebagai proses “ngopeni” atau merawat. Menurut dia, masih ada berbagai kekurangan yang harus dibenahi bersama.

“Inilah alasan mengapa kolaborasi tidak boleh berhenti, karena tugas melayani rakyat adalah amanah yang tidak ada ujungnya,” ujar dia.