Dua gadis kecil memajang miniatur lampion di pasar selama bulan suci Ramadan di Kota Nablus, Tepi Barat, Palestina. (Foto: Xinhua)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Ramadan kembali menyapa Jalur Gaza. Namun, bagi warga di kantong pesisir Palestina ini, bulan suci kali ini adalah Ramadan ketiga yang dijalani di bawah bayang-bayang trauma sejak pecahnya konflik 7 Oktober 2023. Meski gencatan senjata telah diteken pada Oktober 2025 lalu, sisa-sisa kehancuran masih menjadi pemandangan sehari-hari yang menyesakkan dada.
Di tengah puing dan debu, sebuah gerakan sunyi namun penuh makna muncul dari tangan-tangan kreatif penduduk lokal. Mereka tak ingin membiarkan luka perang merampas senyum anak-anak Gaza. Salah satunya adalah Rehan Shorrab (33). Di Khan Younis, perempuan tangguh ini menyulap kotak kardus bekas bantuan kemanusiaan menjadi lentera Ramadan yang penuh warna.
Kreativitas dari Sisa Bantuan
Shorrab bukan tanpa luka; ia kehilangan rumah dan anggota keluarga tercinta. Namun, ia memilih untuk tidak tenggelam dalam duka. “Saya ingin menghadirkan sedikit kebahagiaan bagi anak-anak yang menderita akibat perang,” ujarnya lirih kepada Xinhua.
Dengan ketelitian tinggi, ia memotong dan menghias kardus-kardus itu dengan kain lokal, membentuk pola-pola rumit yang memancarkan cahaya hangat. Beberapa lentera ia pajang di depan tendanya untuk dibagikan secara gratis kepada anak-anak, sementara sebagian lainnya dijual guna menyambung hidup keluarganya yang beranggotakan lima orang.
“Melihat binar di mata mereka saat membawa lentera itu memberi saya kepuasan yang tak terlukiskan. Tawa mereka membuat semua jerih payah ini sepadan,” tambah Shorrab.

Melukis Harapan di Dinding Hancur
Tak hanya Shorrab, di Gaza City, Hussam Ali juga melakukan aksi serupa. Ia memanfaatkan limbah logam dan kayu untuk merakit lentera. Uniknya, Ali mengajak anak-anak sekitar terlibat langsung mendekorasi karya tersebut, membiarkan mereka ‘merajut’ kembali keceriaan yang sempat hilang.
Gerakan kolektif juga muncul di lingkungan Al-Sa’afin, Khan Younis. Sekelompok seniman Palestina mengubah dinding-dinding rumah yang hancur akibat bom menjadi “galeri” harapan. Mereka melukis lentera berukuran raksasa dengan warna-warna cerah tepat di atas reruntuhan.
“Ini bukan sekadar seni, ini adalah pesan kuat. Kami ingin anak-anak memandang Ramadan tetap sebagai masa yang menyenangkan, bahkan setelah semua penderitaan yang mereka alami,” tegas Mohammed Al-Najjar, salah satu seniman yang terlibat.

Terapi Psikologis di Tengah Krisis
Upaya-upaya kecil ini mendapat apresiasi dari pakar kesehatan mental. Rana al-Haddad, seorang psikolog yang berbasis di Gaza, menyebutkan bahwa aktivitas kreatif dan komunal seperti ini merupakan “obat” mujarab bagi dampak psikologis akibat konflik yang berkepanjangan.
“Aktivitas ini memberikan pengalihan dan rasa kehidupan normal bagi anak-anak. Di tengah masa depan yang masih tidak menentu, inisiatif membuat lentera adalah cara bermakna untuk menumbuhkan optimisme dan memperkuat ikatan komunitas,” jelas Al-Haddad.
Ramadan di Gaza tahun ini mungkin belum sepenuhnya bebas dari blokade dan kesulitan ekonomi. Namun, dari lentera kardus dan lukisan di dinding reruntuhan, warga Gaza mengirimkan pesan tegas kepada dunia: semangat mereka untuk menjemput kebahagiaan takkan pernah bisa dipadamkan oleh mesiu.









