Bukan Sekadar Angpao, Raksasa AI China Tebar Model Terbaru di Momen Imlek

Libur Tahun Baru Imlek 2026 ternyata bukan waktu bagi raksasa teknologi China untuk bersantai. Sebaliknya, momentum ini menjadi panggung unjuk gigi bagi perusahaan kecerdasan buatan (AI) Negeri Tirai Bambu yang tengah ‘tancap gas’ merilis model-model terbaru. Menyusul kesuksesan fenomenal DeepSeek, gelombang inovasi ini seolah ingin menegaskan bahwa kiblat AI dunia kini tengah bergeser ke Timur.

Fenomena ini bukan sekadar tren musiman, melainkan strategi sistematis untuk membangun ekosistem AI yang mandiri dan kompetitif di level global.

Misteri Pony Alpha Terjawab: Kehadiran GLM-5

Beberapa waktu lalu, komunitas pengembang global sempat digemparkan oleh kemunculan model uji coba misterius berkode ‘Pony Alpha’. Model ini viral karena kemampuan coding yang luar biasa tajam, melampaui standar rata-rata. Teka-teki itu akhirnya terjawab pada Kamis (12/2/2026); Pony Alpha adalah GLM-5, mahakarya terbaru dari Zhipu AI yang berbasis di Beijing.

Dalam uji coba tertutup, GLM-5 mencatat skor impresif di berbagai tolok ukur agen AI. Kemampuannya yang sudah terintegrasi dalam berbagai alur kerja agen AI profesional membuktikan bahwa pengembang China tidak lagi sekadar mengekor, melainkan mulai memimpin dalam kualitas produk teknis.

Kimi 2.5 dan Efisiensi Biaya yang Radikal

Kejutan lain datang dari Moonshot AI yang merilis Kimi 2.5. Model open-source ini hadir dengan fleksibilitas tinggi, mulai dari pemrograman hingga pemrosesan multimedia (gambar dan video). Yang paling menggetarkan pasar adalah klaim efisiensi biayanya yang mampu memangkas pengeluaran hingga 90 persen.

Investor ternama Chamath Palihapitiya bahkan menyebutnya sebagai ‘momen Kimi 2.5’ yang sangat signifikan bagi industri. Sementara itu, sang pionir DeepSeek terus memperkuat taringnya dengan menguji lonjakan context window dari 128 ribu menjadi 1 juta token. Artinya, AI kini mampu ‘membaca’ dan memproses teks yang jauh lebih masif dalam satu kedipan mata.

Revolusi Video AI: Seedance 2.0 dan Qwen-Image

Dampak ledakan model R1 milik DeepSeek pada awal tahun lalu kini merambah ke sektor visual. ByteDance memperkenalkan Seedance 2.0, platform teks-ke-video yang mampu menghasilkan video multi-adegan dalam waktu singkat hanya dari perintah sederhana.

“Era masa kanak-kanak AIGC telah berakhir,” ujar Feng Ji, kreator gim Black Myth: Wukong, saat memberikan testimoninya terhadap Seedance 2.0. Ia menambahkan dengan bangga bahwa setidaknya untuk saat ini, teknologi secanggih Seedance lahir dari China.

Di sisi lain, divisi AI Alibaba, Qwen, meluncurkan Qwen-Image 2.0. Model pembuatan gambar ini bersifat open-source dan telah mendapat kepercayaan internasional sebagai pendukung perangkat AI Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk menyambut Olimpiade Musim Dingin Milan 2026.

Pasar yang Tumbuh Eksponensial

Ambisi besar perusahaan seperti Alibaba, Tencent, dan ByteDance didorong oleh basis pengguna yang sangat masif. Per akhir 2025, China mencatat 1,125 miliar pengguna internet, dengan 602 juta orang di antaranya adalah pengguna aktif AI generatif.

Angka tersebut menunjukkan lonjakan sebesar 141,7 persen dibanding tahun sebelumnya. Dengan pasar yang tumbuh secepat kilat, China tidak hanya sedang melakukan riset; mereka sedang melakukan revolusi gaya hidup berbasis AI yang akan berdampak pada peta ekonomi digital dunia.