Dialog 3 Jam dengan Presiden Prabowo, Mantan Menlu dan Wamenlu Soroti Keterbukaan Bahas BoP hingga Risiko Global

Vonita Medium.jpeg

Kamis, 5 Februari 2026 – 00:09 WIB

      Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah mantan menteri luar negeri (menlu), mantan wakil menteri luar negeri (wamenlu), serta tokoh senior diplomasi nasional di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026). (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah mantan menteri luar negeri (menlu), mantan wakil menteri luar negeri (wamenlu), serta tokoh senior diplomasi nasional di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026). (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Presiden RI Prabowo Subianto menggelar pertemuan tertutup selama hampir tiga jam dengan sejumlah mantan menteri luar negeri (menlu), mantan wakil menteri luar negeri (wamenlu), serta tokoh senior diplomasi nasional di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (4/2/2026).

Pertemuan tersebut menuai apresiasi karena dinilai berlangsung terbuka, dialogis, dan jauh dari kesan satu arah, terutama dalam membahas arah kebijakan luar negeri Indonesia di tengah dinamika global, termasuk isu Palestina.

Mantan Wamenlu Dino Patti Djalal, mengaku terkejut dengan suasana diskusi yang menurutnya sangat berbeda dari persepsi umum tentang pertemuan dengan Presiden.

Ia menilai dialog berlangsung cair dan memberi ruang luas bagi peserta untuk menyampaikan pandangan kritis. “Pertama saya agak surprise, kenapa? Karena kita cukup banyak dengar cerita mengenai pertemuan dengan Presiden yang satu arah, top-down. Tapi yang saya lihat hari ini saya surprise karena suasana totally open,” kata Dino kepada wartawan usai pertemuan.

Dino mengatakan pembahasan tidak dibatasi oleh topik tertentu. Diskusi berkembang secara dua arah, mencakup berbagai risiko, opsi kebijakan, hingga skenario tantangan global yang berpotensi dihadapi Indonesia, dan seluruhnya ditanggapi langsung oleh Prabowo.

“Dan diskusi ini tidak ada batasannya, tidak ada yang bilang kita tidak boleh nanya ini, tidak boleh nanya itu, tapi sangat terbuka dan diskusi ini dua arah, jadi bukan satu arah,” ujarnya.

Mantan Menlu, Hassan Wirajuda menilai, pertemuan tersebut memberikan pencerahan, khususnya terkait isu-isu diplomasi yang selama ini bersifat sensitif dan tidak sepenuhnya diketahui publik. Ia menekankan keterbatasan informasi kerap memicu persepsi yang tidak utuh di masyarakat.

“Karena itu satu kesempatan berharga, waktu sore ini kita mendapat pencerahan dan banyak informasi yang tidak kita ketahui,” ucap Hassan.

Sementara itu, mantan Menlu Alwi Shihab menegaskan, pertemuan tersebut memperjelas konsistensi sikap Indonesia terhadap perjuangan Palestina.

Menurutnya, komitmen Indonesia terhadap solusi dua negara tetap tidak berubah. “Indonesia tidak pernah meninggalkan komitmen terhadap perjuangan Palestina, dan tetap menginginkan adanya two-state solution. Itu kalau istilah awamnya, itu adalah harga mati. Two-state solution,” jelas Alwi.

Tokoh senior diplomasi, Jusuf Wanandi juga mengapresiasi penjelasan Prabowo yang dinilainya komprehensif dan mendalam. Bahkan, menurut Jusuf, sejumlah pertanyaan telah dijawab Prabowo sebelum sempat diajukan.

“Jadi ini adalah kesempatan saya kira yang dibuka oleh Bapak Presiden yang harus kita hargai dan harus dapat kita pergunakan bersama,” tutur Jusuf yang juga dikenal sebagai pengusaha senior itu.