Antonio Conte, Pelatih Kepala SSC Napoli, bereaksi selama pertandingan Fase Liga MD6 Liga Champions 2025/26 antara SL Benfica dan SSC Napoli pada 10 Desember 2025 di Lisbon, Portugal. (Foto: Gualter Fatia/Getty Images)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com
Perjalanan Napoli di Liga Champions 2025/26 harus berakhir tragis di fase liga. Bermain di kandang sendiri, Stadio Diego Armando Maradona, Rabu (28/1) malam, pasukan Antonio Conte takluk secara dramatis 2-3 dari wakil Inggris, Chelsea.
Kekalahan ini memastikan I Partenopei gagal menembus posisi 24 besar, sehingga tidak berhak melaju ke babak playoff. Padahal, Napoli sempat memimpin 2-1 di babak pertama, namun performa gemilang penyerang Chelsea, Joao Pedro, di babak kedua membalikkan keadaan.
Conte Bangga Meski Skuad Pincang
Antonio Conte menolak untuk menyalahkan para pemainnya. Ia justru merasa bangga dengan semangat juang tim yang tampil dalam kondisi “pincang” akibat badai cedera. Tercatat, Napoli kehilangan sekitar 13 pemain, termasuk pilar utama.
“Kami merasakan kebanggaan dan kepuasan yang besar, karena meski kehilangan lebih dari separuh skuad, kami bermain—jika tidak pada level yang sama—maka bahkan lebih baik dari Chelsea, dan pantas mendapatkan lebih banyak,” ujar Conte kepada Sky Sport Italia.
“Saya sangat bangga dengan anak-anak kami, karena kami menekan mereka, menciptakan peluang, dan bertarung memperebutkan setiap bola,” tambahnya.
Puji Kualitas Joao Pedro
Conte secara khusus menyoroti perbedaan kualitas penyelesaian akhir (finishing) sebagai penentu hasil laga. Ia memuji Joao Pedro, yang mencetak dua gol krusial bagi The Blues.
“Perbedaannya adalah penyelesaian akhir, mereka jauh lebih presisi dan klinis di depan gawang. Saya merasa Joao Pedro membuat perbedaan malam ini, dia adalah pemain yang sangat mengesankan,” puji Conte.
“Masalahnya adalah Chelsea bahkan tidak memiliki banyak peluang mencetak gol, tetapi ketika mereka sampai di posisi itu, mereka menyakiti Anda,” analisisnya.
Penyesalan di Copenhagen
Kapten Napoli, Giovanni Di Lorenzo, dan Conte sepakat bahwa kegagalan mereka bukan semata-mata karena laga malam ini, melainkan kesalahan di laga-laga sebelumnya.
“Saya katakan kepada para pemain bahwa penyesalannya ada di Copenhagen (saat imbang 1-1), di mana kami tidak boleh membiarkan kemenangan itu lepas dari genggaman kami,” ungkap Conte.
Hasil imbang melawan Copenhagen itulah yang memaksa Napoli berada dalam situasi “hidup-mati” melawan tim sekelas Chelsea di laga pamungkas.
Perbedaan Intensitas Serie A vs Inggris
Menutup wawancaranya, Conte memberikan pandangan menarik mengenai evolusi sepak bola Eropa dibandingkan Serie A.
“Di Liga Champions, Anda sering menemukan lawan yang bermain terbuka dan menyerang, jadi harus ada intensitas dan duel. Serie A lebih taktis… Di Eropa ada lebih banyak duel, ada lebih banyak area lapangan untuk dipertahankan,” jelas eks pelatih Chelsea dan Juventus tersebut.
“Meski begitu, di sepak bola modern, Anda tidak bisa hanya parkir bus. Saya ingin tim saya bermain dengan tempo lebih tinggi dan agresif.”














