BI Optimistis Rupiah bakal Stabil dan Menguat, Ini Penopangnya

Clara Medium.jpeg

Selasa, 27 Januari 2026 – 19:58 WIB

Kiri ke kanan: Ketua OJK Mahendra Siregar, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur BI Perry Warjiyo dan Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, dalam Konferensi Pers hasil rapat KSSK I Tahun 2026 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (27/1/2026). (Foto: Inilah.com/Clara).

Kiri ke kanan: Ketua OJK Mahendra Siregar, Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur BI Perry Warjiyo dan Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu, dalam Konferensi Pers hasil rapat KSSK I Tahun 2026 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (27/1/2026). (Foto: Inilah.com/Clara).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal kembali menguat. Modalnya, kata dia, inflasi yang terkendali, imbal hasil aset domestik yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional masih solid.

“Ke depan, nilai tukar diperkirakan akan stabil dengan kecenderungan menguat didukung oleh imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan tetap baiknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Perry dalam Konferensi Pers hasil rapat KSSK I Tahun 2026 di Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

Meski demikian, Perry tak menampik rupiah sempat tertekan. Per 31 Desember 2025, kurs tercatat di level Rp16.675 per dolar AS atau melemah 3,48 persen dibandingkan akhir 2024.

Tekanan berlanjut di awal tahun. Hingga 23 Januari 2026, rupiah berada di posisi Rp16.815 per dolar AS, melemah 0,83 persen dibandingkan penutupan Desember 2025.

“Pelemahan nilai tukar tersebut dipengaruhi oleh aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global,” katanya.

Selain faktor eksternal, Perry menyebut meningkatnya permintaan valuta asing dari perbankan dan korporasi domestik turut memberi tekanan tambahan terhadap rupiah.

Merespons kondisi itu, bank sentral menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen intervensi.

“Bank Indonesia berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, termasuk melalui intervensi terukur di transaksi non-delivery forward (NDF) pasar luar negeri, maupun domestik non-delivery forward, dan pasar spot di dalam negeri, serta memperkuat strategi operasi moneter pro-market,” jelas dia.