Rupiah Lebih Buruk Ketimbang Krisis 1998, Calon Deputi Gubernur BI Santai Bilang Begini

Iwan Medium.jpeg

Senin, 26 Januari 2026 – 01:09 WIB

Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Solikin M Juhro menjalani fit and propert test nomor urut pertama di Komisi XI DPR, Jakarta, Jumat (23/1/2026). (Foto: TV Parlemen).

Calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Solikin M Juhro menjalani fit and propert test nomor urut pertama di Komisi XI DPR, Jakarta, Jumat (23/1/2026). (Foto: TV Parlemen).

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar AS (US$), sempat ambruk ke rekor intraday sekitar Rp16.985 per dolar AS pada 20 Januari 2026. Lebih parah ketimbang intraday krisis moneter 1998 sebesar Rp16.800/US$. Sejengkal lagi menuju titik psikologis Rp17.000/US$.

Namun, asisten Gubernur Bank Indonesia (BI), Solikin M Juhro, kandidat Deputi Gubernur BI yang ditinggalkan Juda Agung, malah tenang-tenang saja.

Dia bilang, pergerakan nilai tukar rupiah akan tetap berada di target pencapaian makroekonomi. “Dalam konteks nilai tukar, secara fundamental, itu persepsinya harus align dengan target-target makro yang lain,” ujar Solikin di Jakarta, dikutip Minggu (25/1/2026).

Solikin mencontohkan, otoritas moneter di Indonesia, kerap menilai fundamental ekonomi yang kuat, terlihat dari berbagai capaian makroekonomi. Misalnya, inflasi, pertumbuhan ekonomi dan defisit. Selain itu, fluktuasi rupiah sangat bergantung terhadap suplai dan permintaan.  “Dari sisi suplai berasal dari devisa hasil ekspor (DHE) dan juga utang luar negeri,” kata dia.

Sementara, sisi permintaan terekam dari kebutuhan pembayaran utang dan impor korporasi. “Inilah yang harus kita kelola sedemikian rupa, termasuk sumbernya dari mana saja. Peran kita adalah bagaimana pasar keuangan itu harus dalam,” tutur Solikin.

Pendalaman pasar keuangan itu, lanjut Solikin, belakangan juga telah dilakukan pemerintah lewat revisi aturan DHE SDA yang kini harus ditahan 12 bulan, dan juga dikhususkan kepada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

Namun, dia juga menyarankan bahwa pendalaman tidak hanya dilakukan lewat langkah itu saja. Perlu ada upaya lain seperti pengembangan instrumen lain untuk membuat pasar tertarik menanamkan dolarnya lebih banyak di dalam negeri.

“DHE SDA ini salah satu terobosan untuk bisa mengawal (stabilitasi nilai tukar). Selain itu, di pasar keuangan juga harus dikembangkan instrumen lain yang affordable untuk mereka menanamkan dolarnya,” tutur dia. “Dan ini harus dilakukan secara berkoordinasi,” papar Solikin.

Sejak awal 2026 hingga 20 Januari lalu, menurut Solikin, kurs rupiah memang terus mengalami pelemahan. Namun, dalam 3 hari ke belakang, rupiah kembali perlahan menguat, menyusul adanya sinyal positif dari pemerintah dan bank sentral yang fokus ke stabilitasi.