Protes Lonjakan Harga, Pedagang Daging di Pasar Parung Bogor Gelar Aksi Mogok Jualan

Clara Medium.jpeg

Kamis, 22 Januari 2026 – 12:54 WIB

Sejumlah pedagang di Pasar Parung, Bogor menggelar aksi mogok jualan. Hanya beberapa pedagang yang terlihat tetap berjualan untuk kebutuhan hidup. (Foto: Inilah.com/ Clara Anna S)

Sejumlah pedagang di Pasar Parung, Bogor menggelar aksi mogok jualan. Hanya beberapa pedagang yang terlihat tetap berjualan untuk kebutuhan hidup. (Foto: Inilah.com/ Clara Anna S)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Sejumlah pedagang daging sapi menggelar aksi mogok jualan sebagai bentuk protes terhadap tingginya harga daging di pasaran. Aksi tersebut dilakukan dengan tidak berjualan yang dimulai pada hari ini, Kamis (22/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026).

Salah satu pedagang daging di Pasar Parung, Bogor, Junaidi menyebutkan harga daging saat ini sudah memberatkan, baik bagi pedagang maupun konsumen.

“Harga sekarang per kilogram Rp130 ribu,” ucap Junaidi saat ditemui Inilah.com di Pasar Parung, Kamis.

Menurut para pedagang, kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat menurun. Karena itu, mereka memilih menghentikan aktivitas jual beli sementara waktu sebagai bentuk tekanan agar ada perhatian dari pemerintah.

“Ada yang tetap buka lapak, tapi yang enggak jualan pada demo harga daging tinggi,” ujarnya.

Dia berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga daging sapi agar aktivitas jual beli bisa kembali normal dan tidak merugikan semua pihak.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (DPD APDI) DKI Jakarta Wahyu Purnama mengatakan pedagang daging sapi Jabodetabek melakukan aksi mogok berjualan selama tiga hari mulai hari ini, Kamis (22/1/2026) hingga Sabtu (24/1/2026).

“Melalui surat ini maka kami memberitahukan bahwa seluruh anggota Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) bandar sapi potong dan pedagang daging akan melakukan aksi mogok dagang sebagai salah satu bentuk protes dan keprihatinan,” ujar Wahyu dalam surat keterangannya, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Wahyu mengatakan, aksi mogok tersebut karena tidak terealisasinya hasil rapat antara APDI dengan Direktorat Perternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) yang digelar pada 5 Januari 2026. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menjanjikan kestabilan harga sapi hidup.

Namun nyatanya, Wahyu menilai harga timbang sapi hidup dari feedlot masih terlalu tinggi. Kondisi itu berdampak pada kenaikan harga karkas RPH, dan daya beli masyarakat yang lemah.

“Dalam rangka menjaga eksistensi dan menciptakan lingkungan yang kondusif dalam APDI sebagai organisasi dipandang perlu untuk melakukan tindakan,” kata dia.

Pihaknya berharap Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga demi keberlangsungan UMKM.

“Kami berharap Kepada Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional dapat segera mengambil langkah konkrit menstabilkan harga untuk hajat hidup orang banyak dan keberlangsungan UMKM di hilirisasi,” jelasnya.