Di industri smartphone Indonesia, wajah artis adalah “senjata” pemusnah massal. Perang vendor ponsel tak lagi sekadar adu besaran megapiksel atau kencangnya prosesor Snapdragon, melainkan perang persepsi yang dibangun lewat sosok figur publik.
Namun, dalam bisnis yang perputaran uangnya triliunan rupiah ini, loyalitas adalah barang langka. Seperti klub sepak bola, vendor ponsel pun rajin melakukan “bursa transfer”. Artis yang dulu mati-matian meneriakkan slogan satu merek, kini bisa jadi berdiri di panggung kompetitor dengan senyum yang sama lebarnya.
Inilah.com merangkum fenomena perpindahan “kubu” paling ikonik dalam satu dekade terakhir. Siapa yang naik kasta, dan siapa yang strategi rebranding-nya paling tajam? Berikut ulasannya.
1. Maudy Ayunda
Ini adalah fakta yang sering terlupakan oleh Gen Z: Maudy Ayunda pernah menjadi wajah Coolpad.
Era Coolpad (2016-2017): Di masa ini, Coolpad adalah penantang baru asal Tiongkok yang mencoba menggoyang pasar. Maudy dipilih untuk mempromosikan Coolpad Fancy 3 dan Coolpad Cool Dual. Strateginya jelas: menggunakan citra smart Maudy untuk meyakinkan pasar bahwa merek baru ini “pintar dan berkualitas”.

Era Vivo (2018-Sekarang): Perpindahan Maudy ke Vivo adalah lompatan estetika. Vivo tidak lagi menjual Maudy sebagai “si pintar”, tapi sebagai “si pintar yang stylish“. Lewat V-Series, Vivo sukses memadukan teknologi potret dengan fesyen, menjadikan Maudy ikon teknologi yang aspirational bagi wanita karier muda.
2. Raisa
Perjalanan Raisa adalah cerminan bagaimana seorang artis “naik kelas” seiring dengan kemapanan penggemarnya.
Era OPPO (2016-2017): Masih ingat OPPO F1s “Your Raisa Phone”? Itu adalah puncak era “Selfie Expert”. Raisa direkrut untuk menjual mimpi tentang kecantikan natural lewat kamera depan. Targetnya masif: kelas menengah.
Era Samsung (2023-Sekarang): Satu dekade berselang, Raisa tak lagi jualan selfie. Ia kini menggenggam Samsung Galaxy S Series (S23/S24 Ultra). Samsung menempatkan Raisa di kasta tertinggi (Epic), menyasar segmen premium yang mementingkan produktivitas dan status sosial. Dari “cantik”, Raisa berubah citra menjadi “mahal”.
3. Iqbaal Ramadhan
Jejak Iqbaal mencatat durasi kontrak yang panjang, namun perpindahannya di tahun 2026 menjadi penanda zaman.
Era realme (2019-2024): Iqbaal adalah nyawa dari slogan “Dare to Leap”. Bersama realme, ia merepresentasikan anak muda (Gen Z awal) yang butuh hape kencang tapi ramah kantong.

Era OPPO (2026): Kepindahannya ke OPPO untuk Reno 15 Series bukan sekadar ganti merek, tapi ganti persona. OPPO membidik Iqbaal versi dewasa—seorang aktor dan musisi yang peduli pada estetika visual (Artistic Portrait). Bukan lagi soal kecepatan gaming, tapi soal cita rasa seni.
4. Prilly Latuconsina
Prilly memiliki basis massa yang fanatik, dan vendor ponsel tahu betul cara memanfaatkannya.
Era Vivo (2017-2019): Prilly adalah kunci Vivo menaklukkan pasar tier 2 dan 3 di Indonesia. Wajahnya di baliho-baliho daerah menjamin penjualan seri V5 dan V7 laris manis di kalangan remaja putri.

Era Samsung (2025): Masuknya Prilly ke Team Galaxy menandai strategi Samsung untuk membumikan teknologi tinggi (Galaxy AI). Prilly bertugas menerjemahkan fitur rumit menjadi konten yang relate dengan anak muda kreatif masa kini.
5. Reza Rahadian
Perpindahan Reza Rahadian adalah salah satu transfer paling “mahal” dalam sejarah branding ponsel di Indonesia, mengingat statusnya sebagai aktor nomor satu tanah air.
Jejak Brand: OPPO (2016-2022) –> Samsung (2023-Sekarang)
Analisis Perpindahan:
Selama hampir 7 tahun, wajah Reza Rahadian identik dengan OPPO. Mulai dari era Selfie Expert (F1s) hingga seri Reno awal, Reza adalah garda terdepan OPPO dalam membangun citra elegan untuk pasar massal. Ia berhasil membuat ponsel mid-range terlihat berkelas di mata publik luas.

Namun, kepindahannya ke Samsung pada 2023 mengubah narasi tersebut secara drastis. Samsung tidak menempatkan Reza di seri A atau S biasa, melainkan langsung ke kasta tertinggi: Galaxy Z Fold Series.













