Anomali Akhir Tahun di Pulau Dewata: Antara Krisis Kursi Pesawat dan Pesona Jalur Darat Jawa

Ada yang tak biasa di Bali pada penghujung 2025 ini. Jika biasanya Pulau Dewata sesak oleh lautan manusia saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), kali ini suasananya terasa lebih dingin. Bukan hanya karena guyuran hujan yang merata, tetapi juga lantaran angka kunjungan wisatawan domestik yang tampak kehilangan tenaga.

Gubernur Bali Wayan Koster mengungkapkan fakta pahit bahwa Bali seolah tengah kehilangan daya pikat bagi wisatawan nusantara. Biang keroknya tak tunggal: mulai dari kelangkaan kursi pesawat hingga pergeseran tren liburan melalui jalur darat di Pulau Jawa.

Krisis Armada dan Teka-teki ‘Kursi Kosong’

Koster menunjuk terbatasnya armada penerbangan domestik sebagai faktor utama. Dua maskapai besar yang menjadi tumpuan, Garuda Indonesia dan Citilink, dilaporkan tengah melakukan perawatan besar-besaran (maintenance). Imbasnya, frekuensi terbang menuju Bandara I Gusti Ngurah Rai menyusut drastis.

Data menunjukkan, jika pada Nataru 2024 terdapat 13 penerbangan reguler, tahun ini angkanya ciut menjadi 11 penerbangan. Kelangkaan ini membuat tiket pesawat tak ubahnya barang mewah yang sulit didapat. 

Namun, anomali terjadi saat sebuah video viral menunjukkan kabin Garuda Indonesia tujuan Bali pada 26 Desember lalu justru tampak melompong.

Hingga kini, manajemen Garuda masih bungkam, meninggalkan tanya: apakah tiket benar-benar ludes atau harganya yang sudah tak masuk akal bagi kantong lokal?

Godaan Tol Trans Jawa dan Faktor Cuaca

Di luar urusan langit, Bali punya saingan berat di darat. Akses Tol Trans Jawa yang kian mulus membuat pelancong domestik lebih memilih memboyong keluarga ke Jawa Tengah, Jawa Timur, atau Yogyakarta. “Akses tolnya bagus. Tapi faktor utama tetap berkurangnya penerbangan, khususnya dari Jakarta ke Bali,” ujar Koster.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana senada dengan hal tersebut. Meski membantah Bali disebut ‘sepi’, ia mengakui ada penurunan sekitar 2 persen. “Pelancong domestik beralih berjalan-jalan di Jawa. Ada peningkatan luar biasa di Jawa Barat hingga Yogyakarta,” ungkap Menpar. 

Ia menambahkan, informasi cuaca buruk di Bali turut memengaruhi nyali wisatawan untuk menyeberang.

Statistik Bandara dan Bayang-bayang AirBnB

Meski terasa lesu di jalanan, data Bandara I Gusti Ngurah Rai justru mencatat pergerakan 885 ribu penumpang selama periode 15-27 Desember 2025 —naik 3,9 persen dibanding rata-rata harian tahunan. Namun, angka ini diduga kuat didominasi wisatawan mancanegara dan warga lokal yang pulang kampung.

Ironisnya, peningkatan jumlah wisatawan ini tidak berbanding lurus dengan okupansi hotel. Muncul dugaan banyak wisatawan kini beralih ke fasilitas Online Travel Agent (OTA) seperti AirBnB yang sulit ditelusuri pajaknya. Akibatnya, hotel dan restoran resmi gigit jari, sementara sopir pariwisata mengeluh sepi orderan.

Bali kini berada di persimpangan. Mengharap pada kejayaan masa lalu saja tidak cukup ketika infrastruktur darat di daerah lain mulai menawarkan kenyamanan yang lebih ramah di dompet. Tanpa solusi konkret atas mahalnya tiket pesawat dan tata kelola akomodasi liar, Pulau Dewata terancam hanya menjadi penonton di tengah gegap gempita libur nasional.