Kemensos–Diktisaintek Resmikan MoU untuk Buka Akses Kuliah bagi Lulusan Sekolah Rakyat

Ibnu Medium.jpeg

Selasa, 2 Desember 2025 – 19:10 WIB

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menandatangani Adendum Kesepahaman tentang Sinergi Tugas Fungsi Bidang Sosial, Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi di kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Selasa (2/12/2025). (Foto: Kemensos)

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf dan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menandatangani Adendum Kesepahaman tentang Sinergi Tugas Fungsi Bidang Sosial, Pendidikan Tinggi, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi di kantor Kementerian Sosial, Jakarta, Selasa (2/12/2025). (Foto: Kemensos)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Pemerintah memperkuat hilirisasi pendidikan Sekolah Rakyat melalui kerja sama resmi antara Kementerian Sosial dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Mendiktisaintek Brian Yuliarto menandatangani adendum kesepahaman terkait sinergi tugas di bidang sosial, pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan, dan teknologi di Jakarta, Selasa (2/12/2025).

Penandatanganan ini menjadi fondasi bagi siswa Sekolah Rakyat untuk mendapat akses beasiswa dan pembinaan agar dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Menurut Mensos Gus Ipul, kerja sama ini merupakan bagian penting dari hilirisasi program Sekolah Rakyat yang ditujukan untuk anak-anak dari keluarga di desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

“Saya hari ini bahagia karena rencana MoU ini akhirnya terwujud,” ujar Gus Ipul.

Ia menjelaskan bahwa terdapat lebih dari 6.000 siswa SMA Sekolah Rakyat yang diproyeksikan lulus pada 2028. Dari simulasi awal yang dilakukan, sekitar 4.000 siswa menyatakan minat melanjutkan ke perguruan tinggi.

Untuk memperkuat pemetaan minat bakat, Kemensos memulai tahap awal tes DNA Talent. Hasil sementara menunjukkan 37 persen siswa memiliki kecenderungan di bidang STEM, sementara sisanya tersebar di bidang kesehatan, teknik, dan berbagai disiplin lainnya.

Bagi siswa yang tidak melanjutkan kuliah, pemerintah akan mengarahkan mereka untuk menjadi tenaga terampil, baik di dalam negeri maupun bekerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait untuk penempatan luar negeri.

Hingga saat ini, Sekolah Rakyat telah beroperasi di 166 titik di seluruh Indonesia, melayani lebih dari 15.000 siswa SD, SMP, dan SMA. Program ini didukung hampir 3.000 tenaga pendidik dan 4.000 lebih staff pendukung.

Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan bahwa dunia pendidikan tinggi siap mengambil peran.
“Kami memiliki lebih dari 4.000 kampus, hampir 10 juta mahasiswa, dan 300.000 dosen. Semua aset ini harus berpartisipasi dalam menyiapkan SDM unggul dari keluarga tidak mampu,” ujarnya.

Brian menjelaskan bahwa kampus akan dipasangkan untuk membina satu hingga dua Sekolah Rakyat. Pembinaan dilakukan melalui kunjungan berkala mahasiswa dan dosen, pendampingan peminatan studi, kelompok belajar, hingga peningkatan kapasitas guru melalui literasi teknologi dan perkembangan keilmuan terbaru.

Ia juga menyebut peran Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang memiliki program pengabdian masyarakat. Ke depan, BEM tidak hanya membina desa, tetapi juga Sekolah Rakyat.

“Harapan kami, siswa Sekolah Rakyat punya pemahaman utuh tentang dunia kampus dan prospek karier, sehingga mereka lebih siap menjalani pendidikan tinggi,” kata Brian.

Dengan MoU ini, kedua kementerian menegaskan komitmen untuk membuka akses seluas-luasnya bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu agar dapat melanjutkan pendidikan tinggi berbasis minat, bakat, dan kebutuhan industri.

Topik
Komentar