Trump Restui CIA Gelar Operasi Senyap di Venezuela, Nasib Maduro di Ujung Tanduk?

Ikhsan Medium.jpeg

Kamis, 20 November 2025 – 03:04 WIB

Presiden AS Donald Trump kabarnya telah memberikan wewenang penuh kepada CIA untuk menyusun operasi rahasia di Venezuela demi menekan Nicolas Maduro. (Foto: Fox News)

Presiden AS Donald Trump kabarnya telah memberikan wewenang penuh kepada CIA untuk menyusun operasi rahasia di Venezuela demi menekan Nicolas Maduro. (Foto: Fox News)

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Inilah.com

+ Gabung

Suhu politik di Benua Amerika kembali mendidih. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah memberikan ‘lampu hijau’ kepada badan intelijen pusat, CIA, untuk mempersiapkan serangkaian operasi rahasia di Venezuela. Langkah agresif ini diambil sebagai upaya pamungkas Gedung Putih untuk menekan rezim Presiden Nicolas Maduro yang dianggap semakin bebal.

Laporan yang dilansir The New York Times, Selasa (18/11/2025) waktu setempat, mengutip sumber-sumber kredibel yang telah menerima pengarahan intelijen, menyebutkan bahwa Trump telah menyetujui langkah klandestin tersebut. Tujuannya jelas: mempersiapkan medan bagi tindakan lanjutan yang lebih keras guna menggoyang kursi kekuasaan di Caracas.

Namun, ada dinamika menarik yang terjadi di balik layar. Di saat tangan kanan Trump menyiapkan skenario penggulingan, tangan kirinya justru membuka kembali jalur diplomasi. Laporan tersebut mengungkap adanya komunikasi jalur belakang (back-channel diplomacy) antara Washington dan Caracas.

Dalam komunikasi senyap itu, muncul isyarat mengejutkan bahwa Maduro mungkin bersedia mundur, namun dengan syarat harus melalui masa transisi yang disepakati.

Maduro: Invasi Adalah ‘Bunuh Diri Politik’ Trump

Menanggapi manuver Washington, Nicolas Maduro tidak tinggal diam. Dalam pidato televisi yang berapi-api pada Senin, sang suksesor Hugo Chavez ini melemparkan peringatan keras. Ia menegaskan bahwa setiap upaya intervensi militer AS ke tanah Venezuela akan menjadi ‘akhir politik’ bagi Donald Trump.

“Orang-orang di sekeliling Presiden AS itulah yang memprovokasi konflik bersenjata. Mereka ingin merugikan Trump secara politik,” tuding Maduro, menyiratkan bahwa Trump sedang dijebak oleh para ‘elang perang’ di kabinetnya sendiri.

Meski demikian, Maduro tetap memainkan kartu diplomasi. Ia menegaskan posisi pemerintahannya yang ‘tidak berubah’, yakni siap untuk berdialog langsung dengan AS demi meredakan ketegangan, alih-alih menempuh jalan kekerasan.

Jejak Darah di Karibia

Keseriusan ancaman AS sebenarnya sudah terlihat di lapangan. Tekanan terhadap Venezuela tidak hanya berupa sanksi ekonomi atau ancaman intelijen, melainkan aksi militer nyata di perairan sekitar.

Data menunjukkan bahwa sejak awal September, militer AS telah melancarkan setidaknya 21 serangan terhadap kapal-kapal di Laut Karibia dan Samudra Pasifik Timur. Dengan dalih operasi anti-penyelundupan narkoba, aksi agresif ini telah menewaskan 83 orang.

Langkah ini dinilai pengamat sebagai blokade terselubung untuk memutus urat nadi logistik dan ekonomi Venezuela, sekaligus pesan intimidasi langsung ke jantung kekuasaan Maduro.

Kini, bola panas ada di tangan Trump: apakah operasi senyap CIA akan menjadi eksekusi akhir, atau diplomasi pintu belakang yang akan menjadi jalan keluar?

Topik
Komentar